Sebagai daun aku selalu melekat dengan ranting. Tapi angin senantiasa membuatku khawatir. Akankah suatu saat lekatan hangat ini dapat terlepas dan tak lagi kurasakan. Setiap hari tubuhku bergetar disaat hembusan lirih maupun hembusan gemuruh menyapaku. Ingin bertahan, tapi tubuh ini telah rapuh. Inginku pasrah, tapi Tuhan selalu memberi pilihan. Ahh...memang tak mudah bertahan padamu ranting. Aku yang tak tega melihat kau selalu menggandengku, namun aku tak pernah membalasmu. Padahal, kau yang selalu memberiku kehidupan.
Aku tahu dengan jelas dan sangat jelas bagaimana hidupku sangat bergantung pada aliran air yang kau beri, wahai ranting. Tapi apalah daya, perlahan kesuburanku lambat laun mengering. Dulu hijauku yang membanggakan aku karena kuat dan terlihat segar, sekarang berubah kuning dan tak berdaya. Trimakasih untuk jasamu yang telah menghidupiku. Memberi rasa, rasa yang selalu aku merasa hidup.
Kini aku harus rela melepasmu, tak sanggup lagi aku bertahan dari ini, dan kekhawatiranku dulu terwujud sudah. Musnah... Musnah... Musnah... Hilang harapan, hilang semuanya. Angin menghempaskan aku, dan mematahkan peganganku. "Maafkan aku ranting yang harus melepasmu, meski aku sekarang tak tau harus jatuh dimana dan tak tau apa yang akan terjadi selanjutnya."
Pesanku untukmu, "Lanjutkanlah hidupmu dan buatlah daun yang baru."
Thank so much because of you who ever given me livelihood.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar